Dewa Nyoman Budiasa Dorong Desa Wisata Kembangkan Potensi Lokal untuk Masyarakat

Pembina Jejaring Desa Wisata (Jejaring DeWi), Dewa Nyoman Budiasa (DNB).

TABANAN | Dunia News Bali – Pengembangan desa wisata tidak seharusnya berhenti pada penetapan sebuah wilayah sebagai destinasi wisata Potensi lokal yang dimiliki desa, seperti sektor pertanian, perkebunan, hingga kerajinan, perlu diidentifikasi, dikembangkan, dan dihubungkan dengan pasar agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Pembina Jejaring Desa Wisata (Jejaring DeWi), Dewa Nyoman Budiasa (DNB), seusai peresmian program pelatihan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Sistem Pertanian Organik di Desa Senganan serta Ekowisata Keridan Organik Farm yang berlokasi di Desa Adat Keridan, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Minggu (13/9/2026).

Menurut Dewa Nyoman Budiasa, status sebagai desa wisata semestinya menjadi awal dari proses pengembangan potensi, bukan menjadi tujuan akhir. Setelah sebuah desa dicanangkan sebagai desa wisata, diperlukan langkah lanjutan agar berbagai potensi yang ada di dalamnya benar-benar dapat diberdayakan.

“Setelah sebuah desa dicanangkan atau dideklarasikan sebagai desa wisata, pertanyaan utamanya bagaimana kelanjutannya? Selama ini, desa wisata cenderung hanya dijadikan sebagai destinasi. Potensi yang ada di dalamnya belum digali dan diberdayakan secara optimal,” kata Dewa Nyoman Budiasa.

Baca juga:  Terapi Garam Krosok Energy Pasupati: Solusi Sehat untuk Jasmani dan Rohani

Ia menjelaskan, desa wisata tidak semata-mata berbicara mengenai destinasi, akomodasi, maupun atraksi alam. Konsep tersebut juga harus mampu menjadi pintu masuk untuk mengembangkan komoditas lokal yang memiliki nilai ekonomi dan berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, salah satu hal yang menjadi perhatian Jejaring DeWi adalah membangun konektivitas antara potensi lokal dengan jaringan atau network yang lebih luas. Menurut Dewa Nyoman Budiasa, keterbatasan jejaring masih menjadi salah satu tantangan dalam mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki desa.

Melalui Yayasan Jejaring Pengembangan Desa Wisata (JP Dewi), pihaknya berupaya mendorong kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Pendampingan dilakukan sekaligus dengan membuka akses jaringan yang diharapkan dapat membantu desa dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Dewa Nyoman Budiasa mencontohkan sektor pertanian dan perkebunan yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari kekuatan desa wisata. Demikian pula produk kerajinan tangan atau handicraft yang memiliki potensi, tetapi masih menghadapi persoalan dalam hal pemasaran.

“Nah, hal ini yang coba kita menyambung keberadaan desa wisata, potensi-potensi yang ada agar lebih bermanfaat untuk masyarakat. Itu inti dari Jejaring DeWi,” ujarnya.

Baca juga:  Bupati Badung Hadiri Karya Ngaben dan Nyekah Masal di Desa Adat Bualu

Ia berharap JP Dewi dapat berperan sebagai jembatan yang mempertemukan desa wisata, pemerintah, masyarakat, serta berbagai jaringan yang dapat mendukung pengembangan potensi lokal secara berkelanjutan.

Dalam menjalankan misi tersebut, JP Dewi memiliki tiga program utama. Ketiganya meliputi Pendampingan Desa Wisata, Pengembangan Pertanian Organik dan Ekowisata, serta Edukasi dan Pendidikan Masyarakat.

Pelaksanaan program tersebut dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, hingga lembaga internasional.

“Dalam menjalankan program-program ini, kami membangun kemitraan dengan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, serta lembaga internasional, salah satunya adalah Konsulat Jenderal (Konjen) Pemerintah Tiongkok di Indonesia,” pungkasnya. (red/riza)

Berita Terpopular

Scroll to Top