Pertanian Organik Digenjot di Senganan Tabanan, Didukung Program Yunnan Hand in Hand

TABANAN | Dunia News Bali – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan terus memperkuat komitmennya dalam mendorong penerapan sistem pertanian ramah lingkungan. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui program Pelatihan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Sistem Pertanian Organik yang digelar di Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.

Kegiatan yang mengusung tema “Sistem Pertanian Organik Mendukung Pariwisata Berkelanjutan di Kabupaten Tabanan Melalui Program Yunnan Hand in Hand” tersebut berlangsung selama dua hari, 13-14 September 2026, dan dipusatkan di wilayah Desa Adat Keridan serta Ekowisata Keridan Organic Farm, Desa Senganan.

Program ini secara resmi dibuka pada Sabtu (13/9/2026) oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan yang diwakili Kepala Bidang Penyuluhan, Sari Dewi Indrawati.

Prosesi pembukaan ditandai dengan pemukulan gong yang dilakukan Sari Dewi Indrawati bersama Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tabanan, Kepala Dinas Tenaga Kerja, UMKM dan Koperasi Kabupaten Tabanan, serta Camat Penebel.

Sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Pembina Jejaring DeWi (Jejaring Desa Wisata), Dewa Nyoman Budiyasa (DNB), Ketua Umum Yayasan Jejaring Pengembangan Desa Wisata Indonesia (JPDWI) yang populer dikenal sebagai Jejaring DeWi, Gede Putu Eka Budiyasa, Ketua Panitia I Made Miantara, Perbekel Senganan, Ketua BPD Desa Senganan, Jero Bendesa Adat Keridan, Kelian Subak Sri Neka, Kepala Wilayah Banjar Dinas Keridan, serta Ketua Pokdarwis Dukuh Mesari, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Nengah Gebloh, dan undangan lainnya.

Pelatihan tersebut merupakan kelanjutan dari realisasi bantuan Program Pertanian Organik dan Pengembangan Pariwisata Pertanian Organik yang bersumber dari Provinsi Yunnan, China, melalui Yunnan Hand in Hand Program sejak 2025.

Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Sari Dewi Indrawati, mengatakan dukungan melalui program hibah tersebut diharapkan mampu menjadi pemicu berkembangnya sektor pertanian, terutama dalam memperluas penerapan pertanian organik di tengah masyarakat.

Baca juga:  Kasus Korupsi Dokumen WNA Terbongkar, Silmy Karim Resmi Jadi Tersangka

Menurutnya, Pemkab Tabanan saat ini terus menggenjot berbagai upaya untuk mewujudkan sistem pertanian yang lebih ramah terhadap lingkungan. Salah satunya dilakukan melalui pelatihan dan bimbingan teknis (bimtek) kepada petani, termasuk mengenai pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL) serta pupuk organik padat dan cair.

Pemkab Tabanan, kata Dewi, memiliki komitmen untuk secara bertahap menggerakkan sektor pertanian agar mulai meninggalkan ketergantungan terhadap pupuk kimia dan beralih menuju sistem organik.

Namun, proses tersebut tidak dapat dilakukan secara instan. Perbedaan biaya produksi, pola perawatan, hingga kebiasaan petani menjadi sejumlah tantangan yang harus dihadapi.

“Tentunya, proses ini perlu waktu, karena adanya perbedaan dari segi biaya dan perawatan jika dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia,” ujarnya.

Meski demikian, melalui kegiatan pelatihan seperti ini, pihaknya berharap pengetahuan mengenai pertanian organik dapat semakin luas dan diterapkan secara bertahap oleh petani maupun masyarakat.

“Minimal kita dapat mengetoktularkan pemahaman kepada para petani dan masyarakat luas untuk mulai mengurangi penggunaan pupuk kimia secara bertahap demi keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang. Hal ini sangat penting demi keberlanjutan pertanian bagi anak cucu kita di masa depan,” kata Dewi Indrawati.

Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Jejaring Pengembangan Desa Wisata Indonesia (JPDWI), Gede Putu Eka Budiyasa, M.M., mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari kegiatan rutin yang dilaksanakan dalam setiap program.

Ia menjelaskan, tujuan utama pelatihan bukan sekadar memberikan pengetahuan, tetapi memastikan bantuan yang diterima kelompok penerima dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkembang secara mandiri.

Baca juga:  Menteri LH Apresiasi Kebijakan Koster Bangun Sistem Pengelolaan Sampah Modern

Dengan demikian, kelompok penerima diharapkan tidak lagi bergantung pada pihak lain untuk memenuhi kebutuhan produksinya. Mereka didorong agar mampu memproduksi sendiri, memanfaatkan, melakukan evaluasi, hingga mengembangkan dan menjual hasil produksinya ke wilayah lain.

Secara khusus, kegiatan kali ini juga diarahkan pada pengolahan limbah pertanian sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat mengenai penerapan sistem pertanian organik yang berkelanjutan.

Eka Budiyasa pun mengingatkan seluruh kelompok penerima bantuan, khususnya Kelompok Tani Mekar Sari, agar memiliki rasa tanggung jawab terhadap bantuan yang telah diterima.

Menurutnya, bantuan tersebut harus memberikan manfaat nyata serta mampu menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dalam jangka panjang.

“Itu yang kita harapkan dan menjadi komitmen bersama dalam proses penggunaan dan pengembangan bantuan ini,” tegasnya.

Adapun bantuan yang telah diserahterimakan antara lain berupa pupuk organik padat dan cair, bibit padi, serta sejumlah alat pertanian berupa traktor dan mesin perontok.

Selain itu, bantuan berupa ternak sapi juga akan menyusul. Nantinya, kotoran sapi tersebut akan dimanfaatkan dan diolah menjadi bahan pupuk organik.

Tidak hanya sektor pertanian, program ini juga mencakup dukungan terhadap fasilitas penunjang kawasan melalui bantuan penerangan jalan berbasis energi surya.

“Pemasangan penerangan bertenaga surya dipusatkan di kawasan Soka Lestari. Sisanya dialokasikan dan dipasang di kawasan Keridang Organic Farm,” kata Eka Budiyasa.

Ketua Panitia, I Made Miantara, menambahkan bahwa program Hand in Hand dari Provinsi Yunnan yang merupakan twin sister Provinsi Bali tersebut diharapkan memberikan dampak positif bagi Kelompok Tani Mekar Sari.

Ia berharap program tersebut tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, tetapi dapat berjalan secara berkesinambungan dan berkelanjutan sehingga memberikan kontribusi terhadap peningkatan perekonomian masyarakat petani di Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan.

Baca juga:  Kejati Bali Naikkan Status Kasus Tukar Guling Mangrove Jembrana ke Penyidikan, Sejumlah Instansi Mulai Diperiksa

Made Miantara menjelaskan, bantuan pada 2026 juga berjalan beriringan dengan program Suka Lestari, khususnya dalam pengadaan panel surya atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Panel surya tersebut antara lain dimanfaatkan untuk mendukung fasilitas swing atau ayunan dan coffee shop. Sementara sekitar 9 hingga 10 unit panel surya dialokasikan di Banjar Keridan untuk mendukung kebutuhan penerangan jalan dan jalur pertanian.

“Nanti lokasinya di sepanjang jalur pertanian Ecofarm Mekar Sari serta beberapa titik sesuai permintaan masyarakat, seperti di area Pura Banjar Keridan,” terangnya.

Rangkaian kegiatan selama dua hari tersebut diawali pada Minggu (13/9/2026) dengan Pelatihan dan Sertifikasi Upakara (pembuatan banten).

Kegiatan ini mengacu pada konsep Tri Hita Karana, yakni Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan. Konsep tersebut menjadi landasan untuk menjaga kearifan lokal sekaligus membangun hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam lingkungan.

“Tentu ada berkaitan dengan Tri Hita Karana. Kita harus berterima kasih kepada Tuhan dan berhubungan dengan manusia dan alam lingkungan. Itulah fungsi dari sertifikasi upakara yang kita tingkatkan di masyarakat,” jelas Made Miantara.

Selanjutnya, pada Senin (14/9/2026), kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan pupuk organik padat dan cair yang dipusatkan di kawasan Eco Farm.

Sementara itu, seremoni penyerahan secara resmi atas seluruh bantuan yang telah diturunkan dijadwalkan akan dilaksanakan pada Desember 2026 mendatang.

Dengan rangkaian program tersebut, pengembangan pertanian organik di Desa Senganan diharapkan tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan pariwisata berbasis pertanian yang berkelanjutan di Kabupaten Tabanan. (riza)

Berita Terpopular

Scroll to Top