DENPASAR | Dunia News Bali – Perempuan dinilai memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan perilaku dan membangun kepemimpinan berwawasan lingkungan, mulai dari lingkup keluarga hingga masyarakat. Peran tersebut menjadi salah satu fokus dalam talkshow bertajuk “Green Leadership, Perempuan: Dari Kesadaran ke Aksi Nyata” yang digelar Yayasan Dedikasi Wanita Srikandi bersama Perempuan ICMI Bali.
Kegiatan berlangsung di Aula Lantai III Ruang Melati, UPTD Pengembangan Kompetensi SDM Provinsi Bali, Jalan Hayam Wuruk Nomor 152, Denpasar, Sabtu (18/7/2026).
Talkshow menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Ketua Yayasan Dedikasi Wanita Srikandi yang juga Pokli Gubernur Bali, Dr. IGA Diah Werdhi Srikandi W.S., S.E., M.M.; Ketua Perempuan ICMI Bali, Hj. Sri Subekti, S.H., Sp.N.; Owner Manik Galih, Nyoman Hartini, S.H.; serta penggiat lingkungan Ir. Nelly Hartati, S.T., M.T.

Diskusi dipandu Ketua Bidang Lingkungan, Iklim dan Kesra PW Perempuan ICMI Bali, Setyarti, S.S., M.Hum., sebagai moderator.
Dalam kesempatan tersebut, Diah Werdhi Srikandi mengaku bangga mendapat kepercayaan menjadi narasumber sekaligus dapat membangun kolaborasi bersama Perempuan ICMI Bali dalam memperkuat kesadaran dan aksi nyata terhadap persoalan lingkungan.
Membawakan materi “Green Leadership Perempuan: Dari Kesadaran ke Aksi Nyata”, Diah menyoroti berbagai tantangan lingkungan yang kini membutuhkan perhatian bersama, mulai dari perubahan iklim, krisis sampah, pencemaran hingga semakin berkurangnya sumber daya alam.

Menurutnya, Green Leadership tidak sebatas berbicara tentang menjaga lingkungan. Konsep tersebut merupakan bentuk kepemimpinan yang mampu memberi teladan, menginspirasi perubahan perilaku, serta menggerakkan masyarakat menuju pola kehidupan yang lebih berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, perempuan memiliki posisi yang sangat strategis karena berperan di berbagai lini kehidupan, mulai dari keluarga, komunitas, dunia pendidikan, dunia usaha hingga ruang pengambilan kebijakan.

Perempuan, lanjut Diah, dapat menjadi agen perubahan di tingkat keluarga dan masyarakat sekaligus membangun budaya hidup ramah lingkungan sejak dini. Pendekatan kolaboratif dan semangat gotong royong juga menjadi kekuatan perempuan dalam menggerakkan komunitas.
Selain itu, perempuan memiliki peluang besar berkontribusi terhadap pengembangan ekonomi hijau melalui sektor UMKM, kewirausahaan, serta berbagai inovasi yang berorientasi pada keberlanjutan.
Diah menjelaskan, penerapan Green Leadership di Bali memiliki relevansi kuat dengan nilai-nilai kearifan lokal, terutama filosofi Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Implementasinya dapat diwujudkan melalui berbagai gerakan konkret, seperti pengurangan sampah plastik, pengelolaan sampah berbasis desa adat, pelestarian hutan dan sumber mata air, hingga pengembangan ekonomi hijau.
“Dari kesadaran menuju aksi nyata meliputi mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, mengolah sampah organik menjadi kompos serta mendukung bank sampah dan ekonomi sirkular,” kata Diah.
Aksi tersebut, lanjutnya, juga dapat dilakukan dengan menghemat penggunaan energi dan air, menanam pohon, menjaga ruang terbuka hijau, memilih produk lokal yang ramah lingkungan, serta memberikan edukasi kepada anak-anak dan generasi muda mengenai pentingnya kepedulian terhadap lingkungan.
Karena itu, Diah mendorong perempuan mengambil peran lebih besar sebagai penggerak komunitas dan pelopor gerakan bebas sampah di lingkungannya, termasuk berpartisipasi aktif dalam pengembangan bank sampah.
Perempuan juga dapat berperan sebagai edukator bagi keluarga dan masyarakat, pelaku UMKM hijau, mitra pemerintah dalam program pelestarian lingkungan, sekaligus menjadi inspirator bagi generasi muda.
Meski demikian, upaya mewujudkan Green Leadership masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya tingkat kesadaran masyarakat yang belum merata, keterbatasan sarana pengelolaan sampah, serta proses perubahan perilaku yang membutuhkan waktu dan konsistensi.
“Untuk itu, diperlukan kolaborasi lintas sektor, yaitu pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, komunitas dan masyarakat,” ujar Diah.
Dalam kapasitasnya sebagai bagian dari Tim PSBS PADAS Provinsi Bali, Diah juga memaparkan aspek regulasi dan kebijakan pemerintah dalam penanganan persoalan sampah. Pembahasan mencakup regulasi mulai dari undang-undang, Peraturan Gubernur (Pergub) Bali terkait PSBS, hingga Surat Edaran Nomor 9 Tahun 2025 tentang Gerakan Bali Bersih Sampah.
Ia turut menjelaskan mekanisme koordinasi penanganan sampah dari Pemerintah Provinsi Bali kepada pemerintah kabupaten/kota, kemudian diteruskan hingga tingkat desa dinas dan desa adat.
“Bagaimana upaya pemerintah dalam mengatasi masalah sampah, jalur koordinasi urusan sampah dari Pemprov Bali ke Pemkab/Pemkot sampai ke desa dinas dan desa adat. Juga terkait PSEL oleh Danantara dan investor China yang sudah groundbreaking pada 8 Juli 2026,” kata Diah.
Pada akhir paparannya, Diah menegaskan bahwa keberhasilan Green Leadership tidak dapat diukur dari seberapa banyak seseorang berbicara mengenai lingkungan. Hal terpenting justru terletak pada konsistensi dalam memberikan contoh dan menjalankan tindakan nyata.
Menurutnya, perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dan bersama-sama.
“Ketika perempuan bergerak, keluarga berubah. Ketika keluarga berubah, masyarakat ikut bergerak, dan ketika masyarakat bergerak, masa depan bumi menjadi lebih baik,” tegas Diah.
Melalui talkshow tersebut, para peserta, khususnya kaum perempuan, diharapkan mampu menjadi agen perubahan sekaligus penggerak kepedulian lingkungan, baik di dalam keluarga maupun komunitas dan lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Antusiasme peserta yang berasal dari sejumlah organisasi perempuan juga terlihat selama kegiatan berlangsung. Bahkan, menurut Diah, terdapat peserta yang menyampaikan keinginan agar dirinya kembali menjadi narasumber untuk membagikan pemahaman mengenai Green Leadership di komunitas mereka.
Sebagai bagian dari kegiatan, para narasumber turut memberikan sejumlah doorprize yang mendukung praktik hidup ramah lingkungan. Di antaranya empat tong komposter dari Perempuan ICMI Bali, 10 lubang biopori dari Yayasan Dedikasi Wanita Srikandi, paket Eco Enzyme dari EE Nusantara, paket Tupperware, serta produk herbal Nenek Moyang.
Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi menjadi momentum memperluas gerakan perempuan dalam membangun kepemimpinan hijau dan menerjemahkan kesadaran lingkungan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan di Bali. (red/riza)