Kinerja Industri Jasa Keuangan Bali Tetap Solid, Dorong Ekonomi Tumbuh 5,58 Persen

DENPASAR — Kinerja industri jasa keuangan Bali tumbuh solid hingga Maret 2026, sukses menopang pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 5,58 persen year-on-year (yoy) di tengah dinamika global.

​Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat bahwa sinergi positif antara sektor keuangan dan aktivitas masyarakat menjadi kunci utama ketahanan ekonomi Pulau Dewata.

​Kredit Investasi dan Sektor Pariwisata Jadi Motor Penggerak

​Perbankan di Bali menunjukkan fungsi intermediasi yang sangat sehat. Penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek tumbuh impresif sebesar 8,19 persen yoy menjadi Rp146,47 triliun.

​Pertumbuhan ini dipimpin oleh lonjakan kredit investasi yang naik 16,92 persen yoy atau setara Rp6,08 triliun. Dari sisi sektor ekonomi, industri pariwisata kembali menunjukkan taringnya.

  • Sektor Penyediaan Akomodasi & Makan Minum: Mencatat kenaikan nominal terbesar hingga Rp2,07 triliun (tumbuh 15,35 persen yoy).
  • Sektor Bukan Lapangan Usaha: Mendominasi pangsa kredit sebesar 33,33 persen.
  • Sektor Perdagangan Besar & Eceran: Berada di posisi kedua dengan porsi 27,15 persen.

​Di sisi lain, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) masyarakat Bali tetap kokoh di angka Rp206,21 triliun, tumbuh 7,00 persen yoy yang dominan ditopang oleh saldo tabungan.

Baca juga:  Gubernur Koster dan Perbarindo Bali Tanam 1.000 Kelapa Daksina, Strategi Kendalikan Inflasi Upacara

​Kredit UMKM Mendominasi, Kualitas Risiko Sangat Sehat

​Komitmen perbankan Bali terhadap pelaku usaha kecil tetap tinggi. Sebesar 51,25 persen dari total kredit di Bali disalurkan kepada sektor UMKM, dengan pertumbuhan mencapai 4,53 persen yoy.

​”Penyaluran kredit UMKM tersebut didominasi oleh segmen usaha mikro dengan porsi sebesar 41,73 persen dan segmen usaha kecil sebesar 37,67 persen,” tulis OJK Provinsi Bali dalam keterangan resminya, Kamis (4/6/2026).

Menariknya, ekspansi kredit ini dibarengi dengan kualitas aset yang membaik. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross Bali turun drastis menjadi 2,56 persen dibandingkan Maret tahun lalu yang berada di angka 3,10 persen.

​Pasar Modal dan Fintech Tumbuh Double Digit

​Selain perbankan, gairah investasi masyarakat Bali di pasar modal sangat tinggi. Jumlah investor di Bali melesat 29,67 persen yoy dengan total 392.841 Single Investor Identification (SID), di mana investasi saham tumbuh paling tinggi sebesar 31,97 persen yoy.

​Sektor pembiayaan berbasis digital (fintech peer-to-peer lending) juga mencatatkan lonjakan penyaluran dana sebesar 35,64 persen yoy menjadi Rp2,25 triliun. Meskipun Tingkat Wanprestasi (TWP 90) naik ke 4,35 persen, angkanya masih aman di bawah rata-rata nasional sebesar 4,52 persen.

Baca juga:  Perkiraan Penyebab Melemahnya Nilai Tukar Rupiah

​Edukasi Massal dan Imbauan Investasi Ilegal

​Guna memastikan pertumbuhan ini merata, OJK Bali masif melakukan edukasi keuangan yang telah menjangkau 448.633 peserta hingga April 2026 melalui program GENCARKAN dan TPAKD.

​OJK juga mengimbau masyarakat untuk terus waspada terhadap produk keuangan ilegal. Masyarakat diminta selalu menggunakan prinsip 2L (Legal dan Logis) sebelum berinvestasi, serta memanfaatkan situs www.sipasti.ojk.go.id atau Kontak 157 untuk melaporkan entitas mencurigakan. (*)

Berita Terpopular

Scroll to Top