Mencari Kesempurnaan pada yang Tidak Sempurna Oleh: Dr, KH. Masrur Makmur La Tanro, M. Pd
DENPASAR | Dunia News Bali – Kebingungan eksistensial manusia modern pernah dirumuskan dengan tajam oleh seorang bijak. Ketika ditanya apa yang paling membingungkannya dalam hidup, jawabannya adalah “manusia itu sendiri”. Paradoksnya jelas: manusia mengorbankan kesehatan demi akumulasi materi, lalu mengorbankan materi demi memulihkan kesehatan. Ia cemas akan masa depan yang belum tiba, sementara masa lalunya kosong dari sweet memory yang bermakna.
Lebih ironis lagi, manusia kerap berbangga pada atribut-atribut yang bukan hasil jerih payahnya: paras yang gagah atau jelita, garis keturunan, maupun status sosial. Padahal semua itu adalah given, anugerah Tuhan yang tidak pernah diminta dan pada waktunya akan luruh termakan usia.
Kebanggaan sejati seharusnya terletak pada apa yang lahir dari tangan, hati, dan perjuangan diri: akhlak. Di titik inilah kemuliaan manusia yang sesungguhnya bertempat.
Baginda Rasulullah ﷺ menegaskan tolok ukur kemuliaan tersebut dalam sabdanya:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ
“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang terbaik di antara kalian dan orang yang terburuk di antara kalian?”
Lanjut sabda beliau:
خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang kebaikannya diharapkan dan terbebas dari keburukannya. Dan seburuk-buruk kalian adalah orang yang kebaikannya tidak diharapkan serta manusia tidak merasa aman dari keburukannya.”
Khalil Gibran menulis dengan lirih:
“Beauty is not in the face; beauty is a light in the heart.”
Keindahan fisik bersifat fana, sementara akhlak bersifat abadi.
Dalam konteks peradaban kontemporer, dalam mengingatkan bahwa percepatan teknologi justru membuat nilai kemanusiaan yang paling elementer—empati, kasih sayang, dan etika—menjadi langka sekaligus paling berharga. Ketika algoritma menggantikan relasi, maka akhlak berfungsi sebagai mercusuar moral yang menuntun manusia agar tidak hanyut.
Maka, “kesempurnaan” yang kita cari bukanlah pada wajah, harta, atau status. All your perfects, segala keping kesempurnaan itu, hanya dapat ditemukan ketika kita menanam kebun kebajikan. Karena yang lahir dari perjuangan akhlaklah yang akan menuai kemuliaan, baik di dunia maupun di akhirat. (*) Selamat Tahun Baru Islam 1448 H