Oleh: Jro Somya
BANGLI | Dunia News Bali – Mohon izin sebelumnya untuk menghaturkan tulisan ini agar diberikan kepatutan dalam rasa Srdha Bhakti yang dalam, bersumber dari Tutur (Sastra Tan Patulis dan beberapa Sastra Patulis).
Sugra Pangampeg Ratu Daha Tua Mapalinggih Ring Gunung Wangun Urip
Sugra Pangampeg Ratu Daha Tua Mapalinggih Ring Gunung Wangun Urip merupakan salah satu Catur Purusa keturunan Sang Hyang Pasupati, sebagai penguasa air.
Ratu Daha Tua merupakan nama lain dari Daha Nu, dan secara lisan disebut Danu (DAha NU).
Karena Ida Nyukla Brahmacari (tidak kawin), beliau disebut Daha Nu atau Daha Tua. Walaupun berwujud perempuan, Ida berstatus Purusa.
Beliau adalah penguasa air yang berstana di Gunung Wangun Urip (membangun kehidupan). Karena itu, nama lain Gunung Wangun Urip adalah gunung air yang disebut juga Pucak Tegeh Kahuripan atau Pucak Tegeh, atau Pura Pucak Penulisan, karena tempatnya berada di atas Ratu Gede Penyarikan atau Ratu Gede Penulisan.
Tempat Diputuskan Kasuakan atau Subak
Di bawah Pucak Tegeh terdapat Palinggih Ratu Gede Penyarikan atau Ratu Gede Penulisan, tempat di mana kasuakan diputuskan yang kemudian disebut dengan subak, sebagai tempat dan mekanisme pembagian air di seluruh Bali.
Untuk membuka lahan dan meminta air, haruslah meminta panugrahan kepada Ratu Daha Tua dan Ratu Gede Penyarikan. Dari sana kemudian muncul beberapa panugrahan sumber mata air, seperti di Muncan, Sulahan, Catur, Kembang Sari (Sang Telaga), dan beberapa desa lainnya di Bali.
Pusat Air dan Pembagiannya ke Seluruh Bali
Sebagai gunung air, di Puncak Tegeh Kahuripan terdapat Gedong Puser Tasik, sebuah sumur di Pucak Gunung. Karena itu, kawasan ini juga disebut sebagai Pusering Jagat atau Goa Metangkeb (versi Tuluk Biyu).
Untuk masyarakat Bali Selatan, airnya dialirkan melalui Tukad Ayung yang kemudian mengalir sampai Tukad Badung dan Karang Suwung.
Untuk masyarakat Bali bagian utara, airnya dialirkan melalui Tukad Daya yang kemudian mengalir sampai ke Bungkulan.
Sedangkan untuk Bali bagian barat, sumber mata air berasal dari Batukaru, Puncak Mangu, Puncak Sari, serta beberapa gunung pesemetonan Gunung Merapi dan Gunung Mahameru.
Untuk masyarakat Bali bagian timur, air dialirkan melalui Tukad Gamongan dan Tukad Kutuh.
Desa-desa utama yang menjadi bagian pelaku dan penyangga spiritual kemudian masuk dalam Bebanuan Puncak Penulisan, yang kemudian penjaganya disebut dengan Gebog Domas.
Gebog Domas kemudian dibagi menjadi empat penyangga yang disebut dengan Domas Satak, yaitu Gebog Satak Sukawana, Gebog Satak Kintamani, Gebog Satak Selulung, dan Gebog Satak Bantang.
Sedangkan terdapat 10 desa Bebanuan Ratu Tegeh yang ditugaskan untuk mengempon Bale Agung Desa Sukawana, yang disebut Metatadan Dasa Desa, sebab Ratu Pucak dilinggihkan di Meru Bale Agung Sukawana.
Secara praktik, Dasa Desa itu adalah sembilan Cucukan, yaitu Sembiran, Awan, Serai, Maniklyu, Daup, Batih, Les Penuktukan, Pacung, dan Tejakula, serta satu Titikan dari Madenan.
Ratu Daha Tua sebagai Penjual Air
Air di Pucak Tegeh dan pesemetonan Gunung Merapi dan Gunung Semeru yang ada di sekitarnya kemudian ditampungkan di Segara Gunung Lebah (Danau Batur sekarang), yang selanjutnya disebarkan oleh Ida dengan cara dijual ke daerah-daerah yang memerlukan air.
Dalam menjual air, Ratu Daha Tua atau Ratu Daha Nu (Danu) menciptakan pusat air di Belandingan, sehingga beliau juga meparab (bernama) Ratu Manik Mas Muncar.
Ida kemudian malih rupa (menyamar) sebagai seorang wanita penjual air yang berpenampilan buruk, lalu menjual air ke wilayah Bali Timur.
Dalam perjalanannya ke Munti Gunung, Ida dicibir dan ditolak seperti gegendong (pengemis), sehingga desa tersebut kemudian kering dan kesumpah untuk menjadi gegendong (pengemis).
Ida kemudian turun ke bawah menuju Tianyar. Namun, tidak ada yang membeli airnya sehingga daerah tersebut menjadi kering.
Perjalanan dilanjutkan ke pesisir utara, tetapi tidak ada yang membeli air hingga akhirnya tiba di Desa Les Penuktukan. Desa Les Penuktukan membeli air dengan aketeng, sehingga desa tersebut akhirnya menjadi Bebanuan Puncak Penulisan dengan kewajiban mengikuti aturan pujawali di Bale Agung Desa Sukawana setiap 20 tahun sekali.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Tejakula. Masyarakat Tejakula membeli air sebanyak dua keteng, sehingga masyarakat Tejakula memiliki kewajiban ngaturang pujawali di Bale Agung Sukawana setiap 10 tahun sekali.
Ketika sudah tidak ada lagi yang membeli airnya, air tersebut kemudian ditumpahkan di Air Sanih.
Untuk wilayah Bali Timur lainnya, sumber air juga berasal dari Pura Antapsai yang merupakan pesemetonan dari Gunung Merapi dan Gunung Mahameru.
Tetamanan Ratu Daha Tua
Tetamanan Ratu Daha Tua berada di Batan Tingkat, sebuah wilayah tabu yang dahulu disebut Sinarata dan Yeh Mampeh. Karena itu, parab Ida di sana adalah Ratu Manik Mas Mampeh atau Ratu Manik Mas Membah.
Segara Gunung Lebah, yang dimaknai sebagai air laut di gunung bagian bawah, dalam perkembangan bahasa kemudian disebut danau. Karena berada di bagian hulu (atas) danau, parab Ida juga disebut Ratu Dewi Danu.
Kawasan tersebut kemudian lebih dikenal dengan nama Batur, sebagai panugrahan dari Raja Batur Enggong atau Waturenggong.