KSSK Jakarta: Sistem Keuangan RI Stabil Meski Volatilitas Global Naik

JAKARTA | dunianewsbali – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) melaporkan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia tetap terjaga pada Triwulan I-2026. Meski eskalasi konflik di Timur Tengah memicu volatilitas pasar global dan lonjakan harga energi, ekonomi domestik justru tumbuh kuat sebesar 5,61% (yoy). Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua OJK, dan Ketua LPS memastikan sinergi kebijakan antarotoritas akan terus diperkuat untuk memitigasi risiko ketidakpastian ekonomi dunia yang diprediksi melambat hingga akhir tahun.

​Tantangan Global: Eskalasi Konflik dan Pelemahan Ekonomi Dunia (H2)

​Kondisi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama meningkatnya ketidakpastian global saat ini. Gangguan pada rantai pasok dunia telah mendorong kenaikan harga minyak dan komoditas penting lainnya.

​Berdasarkan laporan IMF April 2026, pertumbuhan ekonomi dunia diprakirakan melambat menjadi 3,1% dengan inflasi global yang melonjak ke angka 4,4%. Fenomena flight to safety oleh investor juga memicu penguatan dolar AS dan menekan aliran modal ke negara berkembang.

​Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen di Triwulan I-2026 (H2)

​Di tengah tekanan eksternal, ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan luar biasa. Pertumbuhan 5,61% pada awal tahun ini didorong oleh beberapa faktor kunci:

  • Akselerasi Belanja Pemerintah: Fokus pada program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Desa Nelayan, dan Sekolah Rakyat.
  • Konsumsi Rumah Tangga: Meningkat berkat momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan stimulus bansos.
  • Investasi Strategis: Berjalannya proyek hilirisasi Danantara serta pembangunan infrastruktur nasional.
Baca juga:  Perbedaan Data Kemiskinan Versi Bank Dunia dan BPS

​Peran Satgas P3M-PPE dan Kanal Debottlenecking (H3)

​Presiden Prabowo Subianto telah membentuk Satgas Percepatan Program Pemerintah (Satgas P3M-PPE) untuk memastikan iklim investasi tetap kondusif. Salah satu inovasi utamanya adalah layanan Kanal Debottlenecking 24 Jam yang berfungsi mempercepat perizinan dan menyelesaikan hambatan investasi secara transparan.

​Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah dan Pengendalian Inflasi (H2)

​Ketahanan eksternal menjadi fokus utama Bank Indonesia (BI). Per 5 Mei 2026, nilai tukar Rupiah terjaga di level Rp17.415 per dolar AS melalui intervensi pasar valas yang intensif.

​Sementara itu, inflasi pada April 2026 terkendali di level 2,42% (yoy), menurun dari bulan sebelumnya. Keberhasilan ini ditopang oleh panen raya yang menjaga harga pangan (volatile food) serta konsistensi kebijakan moneter BI dan subsidi energi dari Pemerintah.

​Kinerja Perbankan dan Pasar Modal Tetap Solid (H2)

​Sektor perbankan nasional menunjukkan ketahanan kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) di level 25,09% pada Maret 2026. Pertumbuhan kredit mencapai 9,49%, menunjukkan fungsi intermediasi yang tetap berjalan meski di tengah gejolak global.

Baca juga:  Gubernur Koster Dukung Penertiban Money Changer Ilegal, Perkuat KUPVA BB Berizin di Bali

​Di pasar modal, IHSG menunjukkan tren penguatan pada Mei 2026 setelah sempat terkoreksi di awal tahun. Jumlah investor juga terus tumbuh mencapai 24,74 juta SID, menandakan kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap instrumen keuangan domestik. (*)

Berita Terpopular

Scroll to Top